0

semu

satu kata maaf menggantung tak terucapkan di udara
ratusan rasa rindu menguap di dalam dada

aku bunga api di kelamnya langit malam
aku buih di tengah lautan
hilang secepat aku tercipta
tenggelam di antara partikel udara
penumbra ketika kau bermandi cahaya

bintang ku, bulan ku hilang menjadi riak dia atas permukaan air
planet biru ku tak pernah sama lagi
0

susah juga ya?

bikin blog ini gak berisi kemarahan dan kekecewaan gue sama diri gue atau sama hidup gue.apalagi klo niat awalnya gue bikin blog ini kan emang untuk membuang rasa itu haha bodoh.
0

ree-heea-lly?


Me?
Bitch please :r
0

away

Siang itu angin berhembus lembut diantara daun-daun yang berguguran.
Tiba-tiba aku teringat pada 181 hari yang lalu. Aku tidak yakin, 181 hari tidak mungkin tidak membawa perubahan. Tapi rasa itu - rasa sedih, marah, dan kecewa yang tersimpan pada kata hampa - hanya terasa sedikit berbeda. Entah karena waktu atau aku yang berubah.

Aku tidak tau kenapa rasa itu harus kembali saat semua disini. Semua orang yang aku sayangi ada disini. Bercengkrama dengan riang, tertawa bahagia di bawah hangatnya sinar matahari. Aku ingin bergabung tapi ada sesuatu yang menahan ku. Dan memandang mereka dari sudut halaman, terasa lebih menyenangkan.
Dari sini di sudut ini, aku duduk menyesap minuman ku, memandang tawa yang mereka ukir di bibir masing-masing. Aku tak ingin mengganggu...

Kemudian, aku justru melangkahkan kaki ku, berbalik menjauh dari keriuhan itu. Menyumpal kedua telinga ini dengan earphone, dan mengeraskan volume pemutar musik ku.
Menikmati rasa...
Melangkah sendiri...
Hanyut bersama asa di dalam setiap neuron-neuron ku.
0

Bumi dan Langit

Bumi dan Langit diciptakan berpisah tapi menatap satu sama lain.
Langit terlalu kuat untuk bumi yang sangat rapuh.
Ketika langit berusaha menyentuh bumi, dewa memberi titah kepada Atlas untuk menahan langit dibahunya. Dewa takut langit akan menghancurkan bumi.
Tidakkah kau merasa itu sangat menyakitkan?
Melihat satu sama lain tapi tidak bisa bersama.

Lihatlah keatas sana, bagaimana langit melengkung seperti kubah raksasa melindungi bumi.
Langit memenjara udara dibawahnya dari ruang hampa. Menyaring apapun yang masuk dari luar sana sebelum menyentuh bumi.
Taukah kau betapa merindunya langit pada bumi?
Ketika langit mengubah warna biru cerianya menjadi kelabu, bersuarakan petir ia pun menangis.
Setiap hembusan angin yang mengalun lembut itu rindu.
Setiap bulir air yang jatuh dan memecah diatas bumi itu cinta.
Betapa kesepiannya langit, menatap bumi sendirian di atas sana.

Bumi hanya terdiam menatap langit.
Ia membagi setiap bulir air yang jatuh dari langit kepada setiap mahluk hidup.
Ia membagi cinta yang diberikan langit padanya.
Ia mengalirkan setiap bulir air ke sebuah cawan besar bernama Samudera.
Pada setiap air yang ia antarkan ke Samudera, ia sisipkan cerita.
Cerita tentang cinta langit yang menghidupi bumi dan setiap mahluk hidup.
Kemudian bumi menunggu. Menunggu matahari menguapkan kisahnya pada langit.

Dari sini, dari ruang hampa, langit dan bumi adalah satu.
Berdansa, berputar mengelilingi matahari.

(6 Januari 2012 14:20)
0

Hi There, How’s Life?

So, how’s your 2011? Well... mine is pretty tough...
Bahkan gue jarang posting disini lagi. Setiap huruf, rangkaian kata-katanya udah ada dikepala tapi ketika gue berhadapan sama keyboard tiba-tiba ini kok kibor qwerty apa dvorak ya? Huruf apa ini?
Mungkin gue ga bisa nulis lagi karena gue nulis bukan buat nyenengin gue, tapi buat nyenengin orang lain, yang akhirnya diharapkan bisa buat gue seneng juga. Bingung? Sama.

Sometimes we need to make a mistake just to know what is right.
Sometimes we all running away, and get lost just to find the right way.
Sometimes it takes sadness to know happiness, noise to appreciate silence and absence to value presence.
You need the darkness to see the light.
In the name of relativity, you can easily switch from right to wrong, hell to heaven.
Its easier to judge things in black and white and never knew that gray do exist.

Mimpi-mimpi aneh gue udah lumayan berkurang sebenernya, mimpi nyari-nyari ga tau apaan diganti sama mimpi ikut lomba semacam Amaizing Race tapi dikerjar setan bukan waktu. Gue masih suka takjub sama betapa randomnya otak gue. Prinsip-prinsip hidup gue runyam atas nama relativitas, adaptasi, mimikri, autotomi, meranggas apalah itu. Self-defence gue keterlaluan padahal serangan juga ga ada, capek-capek bikin benteng yang akhirnya gue runtuhin sendiri. Begonya adalah udah tau gue salah tetep aja diterusin.
Kadang kita perlu berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi. (Perahu Kertas)
Berbakat deh gue jadi tukang bajaj ngelesnya luar biasa :p I’m a hazzard to my self, gimana cara berdamai sama diri sendiri? Ngurangin ego gue, mengatur emosi yang makin acakadut, dan keras kepala gue yang makin sekeras marmer? Gue rasa itu PR gue tahun ini.

Oiya walaupun telat 9 hari..
Semoga blog ini gak lagi berisi kemarahan ato kekecewaan gue sama diri sendiri atau sama dunia.
Let’s live life abudantly :)
2

kewajiban tanpa hak

Dosen Pengambilan Keputusan Manajerial gue bilang:
"Keputusan yang paling sulit itu adalah keputusan yang berkaitan dengan hati.
Pacaran itu kebanyakan kewajiban tapi haknya gak ada. 
Lain kalau sudah menikah, satu sama lain punya hak dan kewajiban.
Pacaran itu hanya membebani saja, kalian harus melakukan banyak kewajiban tapi gak bisa nuntut haknya.
Saya kasih kalian waktu sampai akhir semester buat mutusin pacarnya masing-masing, untuk dapetin nilai tambahan 20 dari saya."

Semacam musti banyak nonton ftv buat latian ekting mutusin pacar depan dosen hmm..
20 bok lumayan!
Back to Top